Senyap mengawali petang. Seiring surut cahaya mentari, warna merah senja menjadi pekat. semilir angin dingin mulai terasa ,suara jangkrik mulai bersahutan. Seakan tak ingin melewatkan heningnya malam bertabur bintang, mereka berdendang bersama kedamaian malam yang semakin larut.
Sepi, ya begitu sepi suasana kampung .Rumah-rumah penduduk masih jarang ada beberapa terliat titik –titik cahaya lampu minyak temaram dari kejauhan. Jalan kampung mulai senyap. Seakan ada semacam tradisi bahwa selepas maghrib adalah waktunya orang-orang berkumpul bersama keluarga. Orang-orang kampung lebih suka berdiam di rumah masing-masing dari pada keluar bersama teman-bercanda di gardu ronda kedai kopi atau tempat strategis lainnya. Mereka punya alanan karena di siang harinya sudak letih bekerja keras mengais rezeki untuk menghidupi keluarganya.
Suminah masih tekun dengan pekerjaannya. Malam ini ada dua potong petelesan suaminya yang perlu ditambal. Sementara Parjan suami Suminah sudah berbaring di balai-balai tidak jauh dari istrinya duduk hanya berbataskan meja .
Namun, lelaki itu pun belumlah lelap. Melalui cahaya sentir, mata laki-laki itu sesekali menatap wajah istrinya. Memandangnya tanpa bosan. Istrinya yang masih sangat muda. Selisih sekitar lima tahun. Ia sendiri belum lama meninggalkan usia dua puluh satu tahun. Orang-orang kampung cenderung menikah pada usia relatif muda.
Setiap memandang wajah istrinya, selalu saja ada degupan tak beraturan dalam dadanya.
Sabtu, 18 Desember 2010
Selasa, 09 November 2010
SEPANJANG JALAN KENANGAN
Bagian 4
Mengejar Mimpi –mimpi
Matahari mulai rendah ,warna kemerahan mulai tampak menghiasi langit ufuk barat,
para buruh tetanggaku mulai pulang
mangadu nasib demi mencukupi tuntutan hidup harian mereka. Dari hari ke hari
yang aku lihat suasana yang sangat menjemukan .Keluh kesah dari orang-orang dan
sanak kerabat yang hidupnya dimampat penat ,membanting tulang dan memeras
keringat dengan pemikiran yang sangat sederhana yaitu dapat mencukupi makan
hari ini ,yang penting ada yang di makan dan anak-anak tidak merengek itu saja
sudah merasa cukup hidupnya .Sungguh sederhana pemikiran mereka .Tak pernah
terlintas di benaknya hidup lebih baik ,bisa makan hari ini dan berpakaian walaupun hanya mampu beli setahun sekali
ketika menjelang hari Raya Idhul Fitri .Tidak ada niat menyekolahkan
anak-anaknya karena merasa turun temurun dari keluarga biasa ,tak ada yang
berpendidikan tinggi ,tak ada yang jadi pegawai dan alasan yang paling kuat
adalah karena belum ada kesadaran bersekolah ,karena menurutnya itu hanya
haknya orang pintar dan kaya saja .
Tak terasa waktu
berjalan begitu cepat ,suasana gelap pun mulai memudarkan penglihatan , suara
adzan telah terdengan beberapa menit yang lalu . Aku masih asik menatap warna
kemerahan di ujung barat yang sangat indah seindah lamunanku membayangkan
andaikan aku dilahirkan dari rahim keluarga kaya. Pasti aku sekarang sedang berkumpul
dengan keluarga untuk menjalankan ibadah berjamaah ,duduk-duduk di ruang tengah
yang terang dan bersih ,dihiasi cahaya listrik ratusan watt serta bersama-sama
menonton hiburan televisi yang cukup besar ukurannya sambil duduk- duduk
bersantai di sofa dan di meja terhidang minuman dan makanan yang enak-enak
,alangkah bahagianya hidup seperti itu .
Rabu, 08 September 2010
Bunga Kemenangan
Lima tangkai sedap malam:
Tangkai pertama, kupersembahkan bagi malaikat pemberi rahmat.
Tangkai kedua, terkirim harumnya bagi syuhada yang menegakkan tauhid.
Tangkai ketiga, kuulurkan kepada kaum yang bertahan dengan lapar atas nama iman....Tangkai keempat, menjadi bingkisan untuk ibu yang melahirkan anak-anak salih dan salihah.
Tangkai kelima, menemaniku menyambut hari kemenangan .Kepada sahabat ,handaitolan ,kerabat ,teman dan saudara serta semua yang pernah aku kenal baik yang jauh maupun dekat dan para Pembaca yg Budiman,
saya sekeluarga menyampaikan“Selamat Idul Fitri 1431 H, Mohon maaf lahir dan batin.”
Tangkai kedua, terkirim harumnya bagi syuhada yang menegakkan tauhid.
Tangkai ketiga, kuulurkan kepada kaum yang bertahan dengan lapar atas nama iman....Tangkai keempat, menjadi bingkisan untuk ibu yang melahirkan anak-anak salih dan salihah.
Tangkai kelima, menemaniku menyambut hari kemenangan .Kepada sahabat ,handaitolan ,kerabat ,teman dan saudara serta semua yang pernah aku kenal baik yang jauh maupun dekat dan para Pembaca yg Budiman,
saya sekeluarga menyampaikan“Selamat Idul Fitri 1431 H, Mohon maaf lahir dan batin.”
Langganan:
Postingan (Atom)


