Blog pribadi berisi cerpen remaja-Cerpen Romantis-Cerpen Persahabatan-Cerpen Religi-cerita rekaan dan Cerita fiksi yg mengalir bersama penulis terbawa arus kehidupan .Semoga cerita-cerita ini akan bermanfaat bagi pembaca ,Amin .
Lama sekali aku tidak mengupdate blog ini .Banyak hal yang menjadi alasan ....tidak ada ide , belum ada inspirasi ....kesempatan yang tertunda-tunda karena kesibukan ...dan masih banyak lagi alasan-alasan yang lain.Semoga saja para pengunjung dan penggemar tidak putus asa dan mau tetap berkunjung ke blog ini .Satu hal yang membuat aku terdorong untuk memposting untuk mengisi kekosongan cerita cerpen -roman atau sejenisnya adalah pengalaman seseorang teman di facebook yang menuliskan pengalamannya dalam bentuk cerita dengan judul " Gaji Papa Berapa ?" Menurut aku cerita pengalaman ini berisi pesan penting .Itulah sebabnya aku postingkan di sini . Semat Membaca !
GAJI
PAPA BERAPA...???
Seperti biasa Andrew, Kepala Cabang di sebuah perusahaan swasta terkemuka di
Jakarta , tiba di rumahnya pada pukul 21.00 malam.Tidak seperti biasanya, Sarah, putra pertamanya yang baru duduk di kelas 3 SD
membukakan pintu untuknya.
Nampaknya Sarah sudah menunggu cukup lama.
“Sarah… kok belum tidur ?” sapa Andrew sambil mencium anaknya.
Biasanya Sarah memang sudah lelap ketika Andrew pulang dan baru terjaga ketika
ia akan berangkat ke kantor pagi hari.Sambil membuntuti sang Papa menuju ruang keluarga, Sarah menjawab, “Aku nunggu
Papa pulang…… soalnya aku mau tanya berapa sih gaji Papa ?”
Allahu akbar, Allahu akbar ,subhanallah walhamdulillah walaa ilaaha ilallah huallah hu akbar ,allahu akbar walilah ilham .
Ya Robbi Anugerahilah saudara-saudaraku yang sempat berkunjung ke blog kami ketenangan dalam hatinya, kesucian dalam fikirannya,kekhusuan dalam ibadahnya,keberkahan dalam usianya, kesehatan lahiriah dan batiniahnya serta kelak akan ditempatkan pada derajat yang mulia bersama hamba-hamba-Mu ,syuhada dan para Auliya , Amin . Taqoballallahu minna waminkum " Mohon Maaf Lahir dan batin "
Masa
anak-anak telah berlalu .Kini aku sudah menginjak masa remaja .Kesadaran diri
untuk lebih berpikir positif lebih meningkat .Kepribadian semakin matang baik
secara biologis maupun psikologis .
Kini
pergaulanku semakin luas ,kalau dulu hanya sebatas teman kelas dan teman
seperjalanan pulang dan berangkat sekolah dari tetangga desa , sekarang aku
lebih mengenal teman-teman dari sekolah lain .
Perhatianku agak kurang fokus. Jika tak mengingat bahwa
pelajaranku juga sesuatu yang penting, bisa-bisa aku uring-uringan saja
menghadapi pelajaran siang itu. Juga jika tak ada Ida Ayu di ruang kelasku,
ingatanku hanya tertuju kepada angan dan pikiranku untuk tetap bersekolah
walaupun seberat apapun yang harus aku hadapi.
Ida Ayu-lah yang dapat membuatku tenteram, bersemangat
,apa pun kondisi yang ada di belakangku. Entah hawa apa yang dimiliki olehnya
hingga demikian dahsyat mempengaruhi perasaanku.
Senyap mengawali petang. Seiring surut cahaya mentari, warna merah senja menjadi pekat. semilir angin dingin mulai terasa ,suara jangkrik mulai bersahutan. Seakan tak ingin melewatkan heningnya malam bertabur bintang, mereka berdendang bersama kedamaian malam yang semakin larut.
Sepi, ya begitu sepi suasana kampung .Rumah-rumah penduduk masih jarang ada beberapa terliat titik –titik cahaya lampu minyak temaram dari kejauhan. Jalan kampung mulai senyap. Seakan ada semacam tradisi bahwa selepas maghrib adalah waktunya orang-orang berkumpul bersama keluarga. Orang-orang kampung lebih suka berdiam di rumah masing-masing dari pada keluar bersama teman-bercanda di gardu ronda kedai kopi atau tempat strategis lainnya. Mereka punya alanan karena di siang harinya sudak letih bekerja keras mengais rezeki untuk menghidupi keluarganya.
Suminah masih tekun dengan pekerjaannya. Malam ini ada dua potong petelesan suaminya yang perlu ditambal. Sementara Parjan suami Suminah sudah berbaring di balai-balai tidak jauh dari istrinya duduk hanya berbataskan meja .
Namun, lelaki itu pun belumlah lelap. Melalui cahaya sentir, mata laki-laki itu sesekali menatap wajah istrinya. Memandangnya tanpa bosan. Istrinya yang masih sangat muda. Selisih sekitar lima tahun. Ia sendiri belum lama meninggalkan usia dua puluh satu tahun. Orang-orang kampung cenderung menikah pada usia relatif muda.
Setiap memandang wajah istrinya, selalu saja ada degupan tak beraturan dalam dadanya.
Matahari mulai rendah ,warna kemerahan mulai tampak menghiasi langit ufuk barat,
para buruh tetanggaku mulai pulang
mangadu nasib demi mencukupi tuntutan hidup harian mereka. Dari hari ke hari
yang aku lihat suasana yang sangat menjemukan .Keluh kesah dari orang-orang dan
sanak kerabat yang hidupnya dimampat penat ,membanting tulang dan memeras
keringat dengan pemikiran yang sangat sederhana yaitu dapat mencukupi makan
hari ini ,yang penting ada yang di makan dan anak-anak tidak merengek itu saja
sudah merasa cukup hidupnya .Sungguh sederhana pemikiran mereka .Tak pernah
terlintas di benaknya hidup lebih baik ,bisa makan hari ini dan berpakaian walaupun hanya mampu beli setahun sekali
ketika menjelang hari Raya Idhul Fitri .Tidak ada niat menyekolahkan
anak-anaknya karena merasa turun temurun dari keluarga biasa ,tak ada yang
berpendidikan tinggi ,tak ada yang jadi pegawai dan alasan yang paling kuat
adalah karena belum ada kesadaran bersekolah ,karena menurutnya itu hanya
haknya orang pintar dan kaya saja .
Tak terasa waktu
berjalan begitu cepat ,suasana gelap pun mulai memudarkan penglihatan , suara
adzan telah terdengan beberapa menit yang lalu . Aku masih asik menatap warna
kemerahan di ujung barat yang sangat indah seindah lamunanku membayangkan
andaikan aku dilahirkan dari rahim keluarga kaya. Pasti aku sekarang sedang berkumpul
dengan keluarga untuk menjalankan ibadah berjamaah ,duduk-duduk di ruang tengah
yang terang dan bersih ,dihiasi cahaya listrik ratusan watt serta bersama-sama
menonton hiburan televisi yang cukup besar ukurannya sambil duduk- duduk
bersantai di sofa dan di meja terhidang minuman dan makanan yang enak-enak
,alangkah bahagianya hidup seperti itu .
Lima tangkai sedap malam:Tangkai pertama, kupersembahkan bagi malaikat pemberi rahmat. Tangkai kedua, terkirim harumnya bagi syuhada yang menegakkan tauhid. Tangkai ketiga, kuulurkan kepada kaum yang bertahan dengan lapar atas nama iman....Tangkai keempat, menjadi bingkisan untuk ibu yang melahirkan anak-anak salih dan salihah. Tangkai kelima, menemaniku menyambut hari kemenangan .Kepada sahabat ,handaitolan ,kerabat ,teman dan saudara serta semua yang pernah aku kenal baik yang jauh maupun dekat dan para Pembaca yg Budiman, saya sekeluarga menyampaikan“Selamat Idul Fitri 1431 H, Mohon maaf lahir dan batin.”
Hari-hari pertama aku hidup bersama Uwak Jembo terasa sangat panjang dan melelahkan .Akibat peristiwa yang menimpa keluargaku beberapa hari yang lalu, terpaksa aku dan kakakku tidak sekolah untuk beberapa hari sebab kepindahanku ke salah satu sekolah di desa Kanding belum ada yang mengurus,mungkin ayah belum sempat.Aktifitas harian yang biasa aku lakukanpun sangat jauh berbeda . Biasanya aktifitas pribadiku di rumah ,masih dibantu orang tua ,menyiapkan air untuk mandi , mencuci pakaian ,mengerjakan tugas PR dan keperluar lain ,selebihnya adalah bermain bersama teman-teman . Biasanya pekerjaan itu dikerjakan oleh ibu atau ayah atau kakakku .Maklumlah anak usia 9 tahunbelum dapat mengurus semua keperluan dirinya . Sekarang kondisinya lain , aku beserta kakak dan adikku dititipkan kepada Uwak ,secara otomatis aku harus beradaptasi secara spontan dengan keluarga Uwak .Sekarang segalanya harus mengurus sendiri –sendiri ,mau bermain belum punya teman.Paling yang dapat dilakukan adalah membantu Uwak mengambil makan kambing di kebun belakang ,membersihkan lantai ,menyiapkan ranting-ranting kering untuk perapian tungkunya ,itupun hanya sebentar .Biasanya sebelum berangkat sekolah makan pagi sudah disiapkan .Namun sekarang di rumah Uwak pagi-pagi paling hanya ada singkong rebus atau goreng itu saja kalau kebetulan persediaan ada ,kalau tidak ya pagi tak ada apa-apa untuk dimakan. Tampaknyakeluarga Uwak tidak biasa makan pagi ,atau mungkin memang tak ada yang untuk dimakan.Yang terasa yangat menyedihkan adalah malam hari .Rumah Uwak kecil biliknya hanya ada satu ,sisa ruang lain untuk dapur ,dan ruang lebar yang berisi bale-bale terbuat dari bambu .Penerangan yang ada hamya menggunakan lampu minyak yang terbuat dari botol bekas obat yang tutupnya diberi sumbu kain untuk dinyalakan.Uwak dan adikku bayi tidur di bilik ,sedangkan aku ,kakaku dan Kadam anaknya Uwak Jembo tidur di bale-bale di ruang terbuka.Sungguh sangat menyedihkan ,awalnya aku dan kakakku tidak bisa tidur ,tetapi lama-lama menjadi terbiasa. Habis alasnya keras karena hanya bambu ,biasanya tidur sendiri-sendiri sekarang harus bertiga ,tempat tidurnya sempit hingga bergerak sedikit saja harus hati-hati kalau tidak yang ditepi pasti jatuh ke tanah. Selain itu aku sering kedinginan ketika malam-malam. Rumah Uwak berdinding “Gedeg” (pagar rumah terbuat dari anyaman bambu ) ,banyak lubang-lubang kecil sehingga angin menerobos masuk. Sedangkan atap rumahnya terbuat dari “Welit” ( atap rumah terbuat dari ilalang atau daun tebu ).Tak ada plafon maupun langit-langit sehingga angin masuk cukup besar bahkan sampai bisa memadamkan “Senthir”( lampu miyak terbuat dari botol bekas ).Belum lagi ditambah adikku yang masih bayi ,ia seringmenangis ,mungkin karena merasa tidurnya kurang nyaman atau mungkin kedinginan karena kainnya basah oleh pipisnya ,bisa juga karena haus terlalu lama tidak dibuatkan susu botol. Malam gelap mencekam ,dingin semilir angin ,sesekali diselani suara tangis bayi dan posisi tidur yang tidak nyaman sungguh membuat pikiran dan perasaanku terlalu kacau ,bingung bercampur sedih hingga aku hampir putus asa “mengapa dunia ini begitu kejam terhadap anak-anak manusia yang belum tahu dosa” .Harapan aku untuk melanjutkan sekolah hampir pupus , kira-kira 5 hari kemudian ,waktu itu hari minggu ,ayahku datang ,perasanku agak lega .Ayahku sudah tidak terlihat sedih ,namun entah bagaimana perasaan yang tersimpan tidak ada orang yang mengerti .”Endangkaro Bambang ngesuk senen mulai sekolah nang SD I Kanding ,aku nembe ngurus pindahe“ (Endang dan Bambang besok Senin mulai sekolah di SD I Kanding ,aku baru selesai mengurus kepindahannya). Aku menarik nafas lega ,bayangan-bayangan gelap masa depanku terhapus .Aku sangat gembira karena bisa sekolah lagi .
Selalu demikian di bulan Nopember ini. Hujan benar-benar mewarnai hari. Sore. Ya, pukul empat lebih, hujan seperti pantulan manik-manik kaca menderas seketika dengan anggunnya. Aku menyesal, sumur di luar pasti akan keruh lagi airnya, mestinya diberi atap nanti. Hujan. Aku duduk di sini, dekat jendela kaca memerhatikan curahan air yang mengguyur serentak dari udara. Seperti apakah bunyinya? Di atas atap, di dedaunan, di tanah becek, bahkan di kolam ikan yang berderet nun di luar? Aku tak tahu. Sunyi. Kecuali gelegar petir yang menghantam bumi. Ya, hanya itu yang kurasakan. Aku ingat kamu. Aku suka hujan, aku suka suasananya yang begitu kontemplatif. Kurasakan ekstase tertentu jika hujan. Memberiku inspirasi untuk menulis puisi. Bahkan juga menulis surat untukmu dalam suasana hujan kupikir cukup romantis, meski isinya terkadang bernada humor yang ironis. Aku rindu suratmu. Yang selalu hangat dan menggembirakan, simpel dan terkadang menggetarkan.
Perjalanan aku kembali bersama Uwak tidak banyak diceritakan .Jalan yang aku lalui masih tetap ,apa yang bergolak dalam pikiranku juga masih sama ,aku jalan terseak-seok karena Uwak jalannya cepat .Agaknya dalam pikiran Uwak juga dipenuhi dengan pertanyaan-pertanyaan yang belum dapat menerka jawabnya .Aku dan Uwak saling diam ,hanya sesekali menjawab kalau ada orang yang dikenal menyapanya .
Begitu sampai di rumahku Uwak segera menerobos masuk tanpa minta dibukakan pintu sebagaimana biasanya .Ayahku masih duduk terdiam di tempat semula ,agaknya teramat berat beban yang dideritanya .Wajahnya menjadi kelihatan lebih tua dari usia sebenarnya , kerut wajahnya terlihat jelas bahwa beliau sedang berpikir keras .Matanya yang berkaca2 pertanda sedang dalam kesedihan yang amat mendalam . Betapa tidak baru 40 hari ditinggal mati istrinya karena terinfeksi tetanus ketika melahirkan anak yang ketiga.Sekarang ditambah masalah baru yang lebih berat ,Beliau dipaksa Eyang putri harus menikahi sepupunya yang sama sekali tidak dicintainya .Sungguh simala kama yang teramat membingungkan . Mau mengikuti keinginan Eyang berarti menggali lubang penderitaan untuk sendiri .Tak mengikuti kehendak Eyang berarti harus rela meninggalkan anak-anak tercinta yang masih kecil-kecil ,sungguh tak tega .Pandangan mata ayah tampak kosong ,sedikitpun beliau tak beringsut dari duduknya.Segelas kopi di hadapannya dibiarkan utuh sejak pagi .Alangkah malangnya Wakyan seorang pemuda yang cukup punya nama di kampungnya walau hanya sebagai guru SD namun beliau sangat peduli dengan masyarakat sekitar ,padahal saat itu kondisi social politik sedang carut marut .Ya karena saat itu banyak gerakan-gerakan pengacau yang merongrong pemerintahan RI yang syah . Ketika itu bulan September 1968 ,pembersihan sisa-sisa G30 S/PKI belum berakhir .Kondisi ekonimi masyarakat sangat miskin .
Udara pagi terasa sejuk dan semilir angin menimpa dedaunan ,dari celah-celahnya matahari menerobos dinding-dinding bambu rumahku sehingga menghangatkan suasana kamarku yang masih berantakan .Maklumlah anak sesusia aku waktu itu belum bisa bertanggungjawab pekerjaan seberat itu sedangkan untuk diri sendiri sebenarnya masih perlu bantuan orang lain .
Ketika itu aku masih duduk di kelas 2 SD sedangkan kakakku kelas 4.Pagi itu suasana rumahku sangat sepi ,kakakku sudah berangkat sekolah sedangkan Ayah di kamarnya persiapan berangkat kerja . Beliau seorang pegawai negeri yang disiplin dan bertanggung jawab walaupun pegawai rendahan yaitu sebagai guru SD . Sementara ibuku meninggal ketika melahirkan adikku yang baru 40 hari .
Aku bergegas ke kamar berganti pakaian ,bersepatu dan mengenakan kelengkapan sekolahku. Bersamaan aku beranjak keluar kamar terdengan ketukan di pintu dan suara panggilan kepada nama ayahku yang diulang-ulang “Wakyan..Wakyan ..” suara itu tidak asing bagi telingaku itulah sebabnya aku segera berlari membukakan pintu dan ternyata benar yang datang adalah Eyang putriku . Aku segera mempersilakan masuk dan bergegas menuju ayah yang masih di kamar .
Tanpa aku hiraupan suasana di ruang tamu ,akupun segera mengambil piring dan mengisinya dengan nasi dan lauk seadanya untuk sarapan pagi .Yang kupikir aku harus makan secepatnya karena pagi sudah cukup siang ketika itu entah pukul berapa aku tidak tahu ,maklumlah di rumahku waaktu itu belum ada jam dinding .Aku harus segera berangkat sekolah kalau tidak pasti terlambat bisikku dalam hati .
Suara percakapan Eyang dan Ayah di ruang depan sekali-kali terdengar ,Eyangku memang suaranya keras kalau berbicara sedangkan Ayahku bicara hanya sekali-kali saja . Tiba-tiba aku tersentak ketika aku mendengan kata-kata eyang yang aku mengerti maksudnya “ Wakyan ,siki Sukarsih wis ndisiti ,kowe kudu manut aku kudu gelem nikah karo Tati keponakanmu “( Wakyan sekarang istrimu Sukarsih sudah meninggal ,kamu harus patuh kepadaku untuk menikahi Tati adik iparmu )suara itu terdengan cukup lantang ,ayahku diam tak menjawab .
Aku masih terdiam dan memandang wajah dengan senyuman lebar yang ada di hadapanku kini. Aku masih ragu bahwa ia adalah orang yang ku kenal dulu. Wajah itu kini lebih dewasa dan suaranya samar-samar dalam ingatanku."Masa lupa sih sama gue? Gue Sugi, Sugiyanto, teman sekelas lo waktu kita SMP dulu." ia mengulangi kata-kata yang telah ia ucapkan sepuluh menit lalu.Pelan, ku anggukkan kepalaku. Lalu, sosok cowok jangkung, putih dan dengan wajah yang berhias bintik-bintik jerawat mengusik ingatanku. Oh, dia kah cowok itu? Cowok di masa SMP ku? Cowok yang menjadi cinta pertamaku itu?"Elo benar Sugi? Bukannya elo masuk pesantren ya?" tanyaku setelah akhirnya aku yakin ia cowok di masa SMP ku.Ia tersenyum lagi dan menarik nafas lega setelah aku berhasil mengingatnya. "Udah selesai dan sekarang aku mau lanjut kuliah." jawabnya enteng. Matanya yang masih tetap tajam kini memandangku. "Eh, aku kangen sama kamu deh. Masih bandel ngga sih kamu?" tanyanya iseng.Aku tertawa, "Kok tau sih kalo dulu aku bandel?""Siapa sih yang gak kenal kamu, apalagi setelah kamu dihukum pak guru ketika gak mengerjakan PR matematika ,berdiri di depan kelas kita dan teman sekelas agar mencoreng mukamu dengan kapur . Wah,,, kamu kan tiba-tiba terkenal." ujarnya membawaku kembali mengingat kejadian memalukan itu.
Tidak ada yang salah di dirimu ketika perasaanmu mengatakan bahwa aku adalah seseorang yang engkau cintai. Sahabatku, tidak pernah salah bagi siapapun untuk mencintai seseorang yang layak untuk dicintai. Tidak juga salah bagimu, ketika akhirnya mencintaiku.
Hari ini engkau menuliskan pesan pendek untukku. Kamu bilang kamu tulus mencintaiku. Sungguh, aku tidak tahu apakah benar ketulusan itu sebagaimana yang kau ucapkan, atau sesungguhnya pesan itu hanyalah sebaris kalimat penuh pengharapan agar aku mau menerima dirimu sebagai pendampingku.
Hari ini untuk kesekian kalinya aku marah, murka, geram dan tak tahan untuk melampiaskan emosi yang sudah memuncak sampai ke ubun-ubun ini... Anak ini sungguh luar biasa mempermainkan hidupku. Seperti roller coaster, hidupku dan emosiku kini naik turun tanpa bisa terkendali lagi.... Makalah yang kubuat dengan susah payah, mengorbankan waktu bertahun-tahun, menghabiskan banyak tenaga dan keringat (juga uang...) kini teronggok seperti sampah... Penuh coretan gambar boneka, rumah, dan entah apa lagi aku sudah tak memperhatikan lagi.
Brakk!!…
Pintu terbuka dengan keras. Sepi. Tak ada siapa-siapa di dalam. Pasti, sebab, penghuni lain sibuk dengan aktivitas di tempat kerja masing-masing. Termasuk dia, kalau saja dia tidak teringat satu hal. Sungguh dia menyesal kenapa tidak menuruti nasihat orang-orang di sekitarnya. Ah, seandainya aku memasang alarm di ponselku. Seandainya aku menuliskan di papan. Seandainya aku…
Oh, mengapa aku mesti menjadi orang pelupa? Bukankah aku masih muda? Apa memang memori otakku terbatas? Aku ingat, otak punya memori yang sangat besar. Setidaknya, aku masih ingat beberapa hal yang aku lakukan di waktu kecil. Artinya, aku masih mampu merekam dengan baik kejadian 15 tahun lalu. Bukankah itu hebat. Tapi, mengapa aku lupa dengan semua tugas yang baru diberikan seminggu lalu? Orang bilang semua itu karena keteledoranku. Benarkah aku teledor?
Anak dalam gendongan Sri belum diam. Semakin Sri berusaha menenangkannya, tangis anak itu semakin pecah. Sri mulai kuwalahan untuk membujuknya.
“Cup-cup, Nak. Sebentar lagi Bapak datang.” Bujuk Sri sambil menimang-nimang dalam gendongan.
“Mungkin dia lapar, Sri.”
“Mungkin iya, Mbak.”
“Tadi anakmu sudah makan belum ?”
“Belum.”
“Kalau begitu cepat kasih dia makan.”
Terdengar gelak tawa kakek dan neneknya. Tapi Sofi tidak ikut tertawa. Ia tetap serius. Dari balik pintu ia merekam semua percakapan kakek dan nenek. Telinganya didekatkan daun pintu, agar suara kakek dan nenek yang mulai tua terdengar jelas. Sofi benar-benar tidak ingin ada sepatah kata pun yang terlewat. Sesekali kepalanya mengangguk-angguk. Tetapi kadang telinganya dipaksa untuk tegak ketika suara kakek dan nenek tidak terdengar jelas.